Joanna Palani Mahasiswi asal Denmark ikut perang Melawan ISIS

 Joanna Palani Mahasiswi asal Denmark ikut perang Melawan ISIS 1 -majalahahok.com

Joanna Palani, nama mahasiswi cantik jurusan ilmu politik asal Denmark ini. Dirinya baru saja mudik usai bergabung dengan pasukan Kurdi untuk berperang melawan ISIS di Suriah.

Joanna Palani yang baru berumur 23 tahun ini menceritakan bagaimana para militan ISIS “sangat mudah untuk membunuh”. Dirinya juga mendengar langsung para perempuan dan anak-anak gadis mengalami pelecehan seksual ketika disandera kelompok Islamic State alias ISIS.

Dia mengaku bertatap muka dengan militan ISIS yang dirinya sebut mahir membunuh.

Palani, dengan bekal pengetahuan mengenai tutorial menembakkan pistol nekat menghabiskan waktu satu tahun untuk beperang melawan ISIS di garis depan. Dirinya juga membimbing anak-anak lain mengenai bagaimana melawan kelompok radikal itu dan menyaksikan langsung kengerian dari perang di Suriah.

Joanna Palani Mahasiswi asal Denmark ikut perang Melawan ISIS - majalahahok.com
Menurutnya, ada perbedaan yang mencolok antara militan ISIS dan pasukan Presiden Suriah Bashar Al-Assad yang dirinya juluki sebagai “mesin pembunuh”.

“Militan ISIS sangat mudah untuk membunuh,” katanya terhadap Vice sambil tertawa. ”Militan ISIS sangat mahir dalam mengorbankan nasib mereka sendiri, namun tentara Assad sangat terlatih dan mereka spesialis mesin pembunuh,” lanjut dirinya.

Palani yang berasal Copenhagen, Denmark, meninggalkan bangku kuliah di bulan November 2014 untuk meperbuat perjuangan menegakkan hak asasi manusia bagi semua orang.

Dia pertama kali meperbuat perjalanan ke Irak, sebelum pindah ke Rojova, di Suriah.

Di sana, dirinya berjuang dengan pasukan Unit Perlindungan Rakyat (YPG) selagi enam bulan, sebelum bergabung dengan pasukan Peshmerga yang juga selagi enam bulan.

Danske Joanna Palani forlod i November 2014 Danmark for at kæmpe mod Islamisk Stat  i Irak og Syrien.
Pada malam pertama ikut perang di garis depan, perempuan muda ini menyaksikan pemandangan yang tidak terbayangkan. Temannya ditembak mati oleh seorang penembak jitu yang sudah menonton asap rokoknya.

Dia dipaksa tidak berdaya menyaksikan rekannya asal Swedia tewas dengan darah membasahi seragam barunya.

Dalam bulan-bulan berikutnya, Joanna Palani menemukan bakatnya dalam menembak. Dirinya juga sempat berjumpa dengan pasukan Presiden Assad yang bersenjata lengkap. Yang membikinnya tidak tahan merupakan ketika mendengar langsung derita gadis cilik yang diperkosa militan ISIS.

”Meskipun saya seorang pejuang, susah bagi saya untuk membaca mengenai bagaimana seorang gadis sepuluh tahun bakal meninggal sebab dirinya mengalai pendarahan dari pemerkosaan,” katanya terhadap Vice.

Pada awal 2015, Joanna terkejut menemukan suatu  rumah di suatu  desa dekat Mosul, Irak, di mana gadis-gadis muda yang disalahgunakan untuk pelampiasan seksual. Dirinya menceritakan bagaimana seorang korban, yang baru berumur 11 tahun, sedang mengandung anak kembar. Kehamilan itu yang membikin gadis cilik itu meninggal.

Joanna Palani yang kala itu tetap menikmati cuti kuliah, wajib pulang ke negaranya seusai menerima email dari Polisi Denmark.

Dia dikabarhu bahwa paspornya tidak berlaku lagi. Apabila dirinya kembali ke Suriah alias Irak, dirinya dapat dipenjara selagi enam tahun di bawah undang-undang baru di negaranya.

Undang-undang ini dimaksudkan untuk menghentikan para fanatik ISIS bergabung dengan kelompok teror lain di daerah konflik.

Joanna saat ini kembali belajar ilmu politik dan filsafat di Copenhagen.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *